KESIBUKANKU DALAM KESEHARIAN

Y. Pola Pengembangan Paragraf

1. Penalaran generalisasi

..

……….Penalaran generalisasi juga merupakan bagian penalaran induksi. Penarikan berdasarkan data yang sesuai dengan fakta atau data. Fakta atau data dapat diperoleh melalui penilaian, pengamatan, atau hasil survei. Jumlah data atau fakta khusus yang dikemukakan harus cukup dan dapat mewakili.

contoh:

……….Berdasarkan pengamatan yang dilakukan kepada siswa SMA 2000. Saat mereka melaksanakan upacara, semua siswa memakai sepatu hitam dan kaus kaki putih. Pakaian mereka putih-putih dan kemeja dimasukkan ke dalam celana dan ke dalam rok, memakai ikat pinggang warna hitam. Pakaian mereka dilengkapi lagi dengan dasi dan topi abu-abu. Jadi, dapat dikatakan siswa SMA 2000 pakaiannya seragam dan tertib sewaktu mengikuti upacara. .

.
2. Penalaran analogi

……….Penalaran analogi, bagian dari induktif. Penalaran dengan membandingkan dua hal yang berbeda, tetapi memiliki berbagai persamaan. Berdasarkan banyak kesamaan tersebut, ditariklah suatu kesimpulan.

contoh:

……….Seseorang yang menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung. Sewaktu mendaki, ada saja rintangan seperti jalan yang licin yang membuat seseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukar dilalui. Dapatkah seseorang melaluinya? Begitu pula bila menuntut ilmu, seseorang akan mengalami rintangan seperti kesulitan ekonomi, kesulitan memahami pelajaran, dan sebagainya. Apakah Dia sanggup melaluinya? Jadi, menuntut ilmu sama halnya dengan mendaki gunung untuk mencapai puncaknya. .

.

3. Penalaran sebab-akibat

..

……….Penalaran sebab-akibat juga merupakan bagian induksi. Penalaran dimulai dengan mengemukakan fakta berupa sebab lalu disusul dengan kesimpulan yang berupa akibat.

contoh:

……….Hujan berturut-turut mengguyur desa kami. Air sungai berangsur-angsur naik. Jalan dan halaman rumah pun mulai digenangi air. Akhirnya, banjir pun melanda desa kami.

Sekarang perhatikan contoh pengembangan paragraf di bawah ini!

……….Setelah diadakan survei ke pemukiman liar di sepanjang rel kereta api itu, penduduk menempati rumah-rumah terbuat dari bahan yang berupa seng, papan, dan kardus bekas. Rumah itu tidak memiliki MCK, pendek, pengap, lantainya berupa tanah dan lembab. Jadi, dapat dikatakan bahwa tempat tinggal mereka tidak layak huni dan tidak sehat.

Penalaran yang digunakan dalam paragraf tersebut adalah generalisasi sebab paragraf tersebut berisi fakta-fakta yang cukup mewakili untuk menarik suatu kesimpulan di akhir paragraf.

.

.

Perhatikan lagi contoh pengembangan paragraf di bawah ini!

.

……….Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan berpendidikan tinggi, ia akan seperti padi. Setangkai padi mulai berisi akan merunduk. Makin bernas bulir padi itu, makin merunduk tangkainya. Begitu pula manusia yang berilmu dan berpendidikan tinggi, semakin ia berwawasan semakin ia merendahkan hati seperti merunduknya setangkai padi yang berbulir bernas.

Penalaran yang digunakan dalam paragraf tersebut adalah analogi karena

isi paragraf membandingkan dua hal yang berbeda, tetapi memiliki beberapa kemiripan sifat yang dapat ditarik kesimpulan berdasarkan kemiripan sifat-sifat tersebut.

Z. Kata Baku/ Tidak Baku dan Kata Serapan

……….Kata baku, ialah kata-kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Acuan yang dapat digunakan adalah KBBI, EYD, Pedoman Pembentukan Istilah, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, sedangkan yang tidak mengikuti kaidah, disebut bahasa tidak baku. Pembakuan kata-kata juga berlaku untuk istilah dan kata serapan atau berasal dari bahasa asing, bunyi dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

Perhatikan kata-kata dalam tabel berikut! .

.

Nah sekarang perhatikan 5 kalimat berikut di bawah ini!

a. Bajunya terbuat dari kain sutra.

b. Tempellah perangko di sudut kanan atas.

c. Dia harus berfikir jernih menyelesaikan soal itu.

d. Mereka sedang mentelaah puisi W.S. Rendra.

e. Saya berani menanggung risiko apa saja.

dari lima kalimat yang di contohkan di atas yang mengandung kata baku adalah kalimat ke lima (e), karena memang risiko yang baku sedangkan resiko tidak baku. .

.

Sekarang perhatikan lagi 5 contoh kalimat di bawah ini!

a. Ia mengikuti erobik setiap minggu.

b. Karirnya mulai bagus tahun ini.

c. Managemen perusahaan itu baik.

d. Dia mengisi kuesioner itu sendiri.

e. Mereka menemukan tehnik baru.

dari 5 contoh kalimat di atas yang mengandung kata serapan baku adalah kalimat ke 4 (d), sebab penulisan kuesioner sudah baku, bukan kwesioner.

AA. Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas

……….Kalimat utama, ialah kalimat yang berisi masalah/ kesimpulan sebuah paragraf. Letaknya dapat di awal paragraf (deduksi), di akhir (induksi), atau di awal dan di akhir (deduksi-induksi).

..

.

……….Kalimat penjelas, ialah kalimat yang berisi penjelasan terhadap hal yang dinyatakan dalam kalimat utama atau berisi hal-hal khusus.

contoh:

..

……….Banyak orang membaca sebuah bacaan dengan tujuan ingin mendapatkan informasi dari bacaan tersebut. Informasi yang ingin diperoleh mungkin sudah pernah didengar, tetapi ingin lebih meyakinkan lagi dengan membaca langsung. Membaca bacaan berisi informasi yang pernah dibaca sebelumnya dan ingin mengingat lagi informasi itu lebih baik. Apalagi membaca suatu bacaan yang berisi informasi baru, tentu akan dicermati dengan baik atau mungkin akan mencatat informasi tersebut.

Kalimat yang tercetak miring dalam bacaan tersebut berupa kalimat utama dan kalimat-kalimat berikutnya merupakan kalimat penjelas.

Perhatikan penggalan paragraf berikt!

……….(1) Tanaman perlu perawatan. (2) Merawat tanaman dapat dilakukan dengan cara memberi pupuk, menyirami setiap hari, dan menyiangi rumput yang mengganggu pertumbuhannya. (3) Rumput ada yang dapat dijadikan obat. (4) Apalagi perawatan tanaman dilakukan dengan sungguh-sungguh. (5) Tanaman akan tumbuh dengan baik dan berkualitas tinggi sehingga dapat dinikmati dengan puas. Kalimat penjelas yang tidak mengacu kepada kalimat utama (tidak padu) terdapat pada kalimat …. .

.

Jika diperhatikan dengan cermat maka kalimat (3) adalah kalimat yang sumbanga karena kalimat (3) sama sekali tidak mengacu kepada kalimat utama yang membicarakan tanaman perlu perawatan. .

.

AB. KOHERENSI ATAU KEPADUAN

.

……….Yang dimaksud dengan koherensi adalah kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dan kalimat yang lain yang membentuk alinia/ paragraf, wajar dan mudah dipahami tanpa kesulitan yang menghalangi, dan tidak pula terasa pikiran melompat- lompat sehingga membingungkan, dan membicarakan satu topik.

Contoh paragraf koherensi:

..

……….Tiap generasi mempunyai panggilan masing-masing sesuai dengan zamannya. Generasi pencetus dan generasi pelaksana telah menunaikan tugasnya dengan baik. Yang pertama berhasil membangkitkan semangat keinginan bernegara; yang kedua berhasil menciptakan negara merdeka. Generasi pembina masih dalam ujian. Belum diketahui sampai di mana kemampuannya untuk membina dan mengembangkan warisan situasi yang diterima dari angkatan pelaksanan. Apakah mereka itu mampu membina dengan mengembangkan warisan situasi yang telah diterima; apakah mereka itu membina dan mengembangkan nilai-nilai nasional sesuai dengan martabat bangsa mereka, masih harus dibuktikan (Keraf,1989: 75).

Semua kalimat dalam paragraf mengacu pada topik yaitu tiap generasi mempunyai panggilan, kalimat lancar, dan padu.

Perhatikan lagi contoh paragraf berikut ini!

……….Pada tahun 1952, Clifford Geert mempopulerkan tipologi santri, abangan, dan priyayi sebagai kategori sosial yang ada dalam masyarakat Jawa. Menurut Parsudi Suparlan, pengkategorian tersebut dibuat bukan sebagai sesuatu yang saling bertentangan, tetapi justru untuk memperlihatkan adanya saling ketergantungan di antara ketiganya. Sastro ingin anak cucunya mengerti bahwa hidup sebagai priyayi adalah mengabdi dan setia kepada raja dan negara. Ketergantungan ketiga kategori tersebut, terwujud dalam kehidupan birokrasi kota. Meskipun demikian, sampai saat ini polemik belum juga selesai dalam masyarakat Jawa.

Kalimat yang tidak koheren dalam paragraf tersebut, terdapat pada kalimat ke 3. Kalimat ketiga tersebut tidak koheren (tidak sesuai/tidak padu) dengan masalah yang dibicarakan dalam paragraf tentang kategori sosial dalam masyarakat Jawa.

=============================
.
UNTUK MENENTUKAN PILIHAN KLIK
1. Unduh Dokumen Asli, Kembali ke halaman pertama,
2. Kembali ke materi 1,
3. Kembali ke materi 2,
4. kembali ke materi 3,
5. Kembali ke materi 4,
6. Kembali ke materi 5,
7. kembali ke materi 6,
8. Menuju ke materi 8,

9. Menuju ke materi 9

TOKOH

============================